Mereview Film “Jumbo” versi saya

Hari itu, Minggu sore di bulan April 2025, aku dan adikku sudah duduk di ruang bioskop sejak lima belas menit sebelum film dimulai. Kami memutuskan menonton film Jumbo, film animasi Indonesia yang katanya sedang viral dan memecahkan rekor penonton. Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik awalnya—film anak-anak, pikirku. Tapi adikku terus merengek, dan jujur saja, aku penasaran juga. Film animasi buatan lokal yang bisa menyaingi Moana atau Frozen? Masa sih?

Lampu mulai meredup. Musik pembuka mengalun pelan. Layar besar menyala, dan cerita dimulai.

Dari adegan pertama, aku langsung merasa ada yang berbeda. Film ini tidak menyajikan dunia yang glamor atau karakter yang terlalu "kartun", tapi malah terasa dekat dan jujur. Tokoh utama, Don, adalah anak SD bertubuh besar yang sering diejek teman-temannya. Ia lebih suka membaca buku dongeng daripada main bola atau TikTok-an. Dari situ, aku langsung merasa relate—aku juga dulu sering dianggap "aneh" hanya karena suka menulis cerita dan membaca sendiri di pojok kelas.

Ketika Don kehilangan buku dongeng warisan orang tuanya dan merasa putus asa, aku mulai merasakan benjolan di tenggorokanku. Lalu muncul karakter peri bernama Meri, dan cerita berubah menjadi petualangan magis di Dunia Jumbo—sebuah dunia fantasi yang penuh warna, makhluk-makhluk ajaib, dan bahaya yang terasa nyata.

Animasi film ini benar-benar di luar ekspektasi. Warnanya indah, detail latarnya sangat kaya, dan desain karakternya unik tanpa terasa meniru gaya luar negeri. Tapi yang paling berkesan bukan visualnya—melainkan emosinya.

Ada satu adegan yang tidak akan aku lupakan. Don berdiri di depan makhluk gelap bernama Pencuri Cerita yang mencuri imajinasi anak-anak. Sosok itu perlahan berubah menjadi bayangan dirinya sendiri—rasa takut, malu, dan penolakan yang ia kumpulkan selama ini. Dalam diam, aku merasa seperti melihat diriku sendiri di layar.

Ketika Don berkata, “Aku berhak menulis cerita hidupku sendiri,” aku benar-benar tidak bisa menahan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena terasa sangat personal. Siapa pun yang pernah merasa tidak cukup baik, pasti mengerti perasaan itu.

Adikku juga terlihat sangat menikmati film ini. Ia tertawa waktu melihat karakter Rulo, si gajah kecil cerewet, dan bersemangat saat Don mulai melawan rasa takutnya. Setelah film selesai dan lampu menyala, ia menoleh ke arahku dan berkata, “Kak, Don kayak aku ya. Suka dibully tapi tetap berani.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Dalam diam, aku tahu film ini sudah melakukan sesuatu yang luar biasa: bukan hanya menghibur, tapi menyentuh dan menguatkan.

Saat kami keluar dari bioskop, aku merasa seperti baru saja menyaksikan sejarah. Bukan cuma karena Jumbo adalah film animasi Indonesia pertama yang menembus jutaan penonton, tapi karena ia berhasil menjadi cermin bagi banyak anak dan remaja seperti kami. Ia membuat kami merasa dilihat, dimengerti, dan—yang paling penting—diinspirasi.

Sejak hari itu, aku mulai menulis lagi. Bukan karena aku ingin jadi terkenal, tapi karena aku ingin menjadi seperti Don—anak yang berani menulis akhir ceritanya sendiri.

Komentar