Pengalaman Mengikuti Ekstrakurikuler Hadroh di SMP

Hari Senin siang, setelah bel pulang berbunyi, teman-temanku mulai meninggalkan kelas satu per satu. Beberapa langsung pulang, ada juga yang menuju ruang kegiatan ekstrakurikuler mereka. Aku tidak terburu-buru pulang, karena hari itu adalah jadwal latihan hadroh—ekstrakurikuler favoritku sejak pertama kali masuk SMP.

Namaku Isnan, siswa kelas 8 di sebuah SMP negeri di kota kecil. Sejak kecil, aku memang menyukai musik Islami, terutama sholawat. Ketika pertama kali tahu bahwa sekolahku memiliki ekskul hadroh, aku langsung tertarik dan mendaftar tanpa ragu. Aku ingin bisa menyalurkan minatku sambil memperdalam pengetahuan agama.

Awalnya, aku tidak tahu banyak tentang hadroh. Yang aku tahu hanya suara tabuhan rebana yang berirama dan lantunan sholawat yang merdu. Tapi setelah beberapa kali ikut latihan, aku mulai paham bahwa hadroh adalah perpaduan antara seni, musik, dan bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Semuanya dikemas dalam harmoni suara dan irama yang kompak.

Kegiatan ekskul hadroh di sekolahku dilaksanakan setiap hari Senin, pukul 14.00 sampai 16.00, bertempat di musala sekolah. Kami dibimbing oleh Ustaz Lukman, guru agama yang juga sangat ahli dalam seni hadroh. Pada pertemuan pertama, kami dikenalkan dengan berbagai jenis alat musik hadroh, seperti rebana bass, rebana kecil, tam, dan kecrek. Aku paling tertarik dengan rebana kecil, dan sejak itu aku mulai dilatih untuk memainkan pola-pola dasar dari alat tersebut.

Di awal latihan, tanganku sering sakit dan terasa pegal karena belum terbiasa. Tapi aku tidak menyerah. Dengan latihan rutin dan bimbingan yang sabar dari ustaz serta semangat dari teman-teman kelompok, aku mulai bisa mengikuti pola-pola seperti taktim, rol, dan jedag-jedug dengan tempo yang lebih tepat.

Yang paling aku sukai dari kegiatan hadroh adalah saat kami membaca sholawat bersama. Suaranya merdu, menenangkan, dan membuat hati terasa adem. Bagi kami, latihan hadroh bukan hanya tentang seni musik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman, kebersamaan, dan kedisiplinan.

Beberapa bulan kemudian, kami mendapat kesempatan untuk tampil di acara Maulid Nabi tingkat sekolah. Itu adalah pertama kalinya aku tampil di depan banyak orang sebagai pemain hadroh. Awalnya aku gugup, tapi begitu tabuhan dimulai dan suara sholawat berkumandang, semua rasa cemas hilang. Aku merasa bangga bisa ikut mengisi acara sekolah dan menunjukkan hasil latihan kami selama ini.

Kegiatan ini mengajarkanku banyak hal. Pertama, tentang disiplin waktu, karena kami harus hadir tepat waktu setiap Senin sore dan tidak boleh malas. Kedua, tentang kerja sama tim, karena setiap tabuhan harus serasi dan kompak agar iramanya enak didengar. Ketiga, tentang percaya diri, karena tampil di depan umum bukanlah hal yang mudah.

Lebih dari itu, mengikuti hadroh membuatku merasa lebih dekat dengan ajaran Islam. Membaca sholawat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Setiap latihan bukan hanya tentang mengasah kemampuan, tapi juga menyegarkan hati dan menambah semangat.

Kini, aku sudah menjadi bagian dari tim inti hadroh sekolah. Kami pernah tampil di beberapa acara sekolah dan kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Meskipun belum pernah meraih juara lomba, pengalaman dan kebersamaan yang kami dapatkan sangat berharga.

Bagiku, hadroh bukan hanya kegiatan setelah sekolah. Ia adalah tempat untuk tumbuh, belajar, dan mencintai Islam dengan cara yang indah. Aku bersyukur menjadi bagian dari tim hadroh SMP, dan aku berharap suatu hari nanti bisa membawa tim ini meraih prestasi yang lebih tinggi.


Komentar